Tiga Lelaki dalam Perahu
Jerome K. Jerome
Bab 1
Tiga orang sakit—Penderitaan George dan Harris—Korban seratus tujuh penyakit mematikan—Resep-resep yang bermanfaat—Obat gangguan hati pada anak-anak—Kami sepakat bahwa kami terlalu banyak bekerja dan perlu istirahat—Seminggu di samudra bergelora?—George mengusulkan sungai—Montmorency mengajukan keberatan—Usul semula disetujui dengan suara tiga lawan satu.
Kami berempat—George, William Samuel Harris, aku sendiri, dan Montmorency. Kami duduk di kamarku, merokok, dan membicarakan betapa buruknya keadaan kami—buruk dari segi kesehatan, tentu saja maksudku.
Kami semua merasa kurang sehat, dan hal itu mulai sangat mencemaskan kami. Harris berkata bahwa terkadang ia diserang pusing yang begitu luar biasa sampai hampir tak tahu apa yang dilakukannya; lalu George berkata bahwa ia pun sering diserang pusing dan hampir tak tahu apa yang ia lakukan. Aku sendiri mengalami gangguan hati. Aku tahu yang bermasalah adalah hatiku, sebab aku baru saja membaca selebaran iklan pil paten untuk gangguan hati, yang memerinci berbagai gejala untuk mengenali gangguan pada hati seseorang. Semua gejala itu ada padaku.
Sungguh luar biasa, tetapi setiap kali membaca iklan obat paten, aku selalu terdorong menyimpulkan bahwa aku mengidap penyakit yang dibahas di situ dalam bentuknya yang paling ganas. Diagnosisnya selalu terasa cocok betul dengan segala yang pernah kurasakan.
Aku ingat suatu hari pergi ke Museum Britania untuk mencari keterangan tentang pengobatan suatu penyakit ringan yang agak menggangguku—kalau tak salah, demam serbuk sari. Kuturunkan buku yang kucari dari rak, lalu kubaca semua yang perlu kubaca; kemudian, tanpa berpikir panjang, dengan iseng kubalik-balik halamannya dan mulai mempelajari berbagai penyakit sambil bermalas-malasan. Aku lupa penyakit pertama yang kudalami—yang jelas, suatu penyakit mengerikan yang membawa malapetaka—dan bahkan sebelum pandanganku mencapai separuh daftar “gejala awal”, aku tersadar bahwa aku benar-benar mengidapnya.
Sejenak aku duduk membeku karena ngeri; kemudian, dengan lesu dalam keputusasaan, kubalik lagi halaman-halamannya. Aku sampai pada demam tifoid—membaca gejalanya—menemukan bahwa aku mengidap demam tifoid, pasti sudah berbulan-bulan tanpa kusadari—bertanya-tanya penyakit apa lagi yang kuidap; kucari penyakit tari Santo Vitus—dan, seperti dugaanku, ternyata aku mengidapnya juga—aku mulai tertarik pada kasusku sendiri dan bertekad menyelidikinya sampai tuntas, maka kumulai menurut abjad—kubaca tentang demam menggigil, dan kutahu bahwa penyakit itu mulai menjangkitiku, serta tahap akutnya akan dimulai kira-kira dua minggu lagi. Lega rasanya mendapati bahwa penyakit Bright hanya kuidap dalam bentuk yang lebih ringan, dan sejauh menyangkut penyakit itu, aku masih mungkin hidup bertahun-tahun. Kolera kuidap dengan komplikasi berat; sedangkan difteri tampaknya sudah kubawa sejak lahir. Dengan tekun kutelusuri kedua puluh enam huruf itu, dan satu-satunya penyakit yang bisa kusimpulkan tidak kuidap adalah radang lutut pelayan.
Mula-mula aku agak tersinggung; entah mengapa, rasanya seperti diremehkan. Mengapa aku tidak mengidap radang lutut pelayan? Mengapa ada pengecualian yang pilih kasih ini? Namun, selang beberapa waktu, perasaan yang tidak begitu serakah mulai menguasai diriku. Kupikir, aku sudah mengidap semua penyakit lain yang dikenal farmakologi, dan aku pun menjadi kurang mementingkan diri sendiri, lalu memutuskan untuk menerima hidup tanpa radang lutut pelayan. Rupanya penyakit pirai, pada tahapnya yang paling ganas, sudah menyerangku tanpa kusadari; dan jelas aku menderita zimosis sejak kecil. Tidak ada penyakit lagi sesudah zimosis, maka kusimpulkan tak ada lagi yang tidak beres denganku.
Aku duduk merenung. Betapa menariknya kasusku dari sudut kedokteran, pikirku, betapa berharganya aku bagi sebuah kelas! Mahasiswa tak perlu lagi “berkeliling rumah sakit” kalau mereka punya aku. Aku ini rumah sakit tersendiri. Mereka cukup berjalan mengelilingiku, lalu mengambil ijazah.
Kemudian aku bertanya-tanya berapa lama lagi aku akan hidup. Kucoba memeriksa diriku sendiri. Kuraba denyut nadiku. Mula-mula sama sekali tak terasa ada denyut. Lalu mendadak denyut itu seakan mulai berdetak. Kukeluarkan jamku dan kuhitung kecepatannya. Hitunganku seratus empat puluh tujuh kali semenit. Kucoba meraba jantungku. Aku tak bisa merasakan jantungku. Jantung itu berhenti berdetak. Belakangan aku diyakinkan untuk berpendapat bahwa jantungku pasti tetap ada di tempatnya sepanjang waktu itu dan pasti terus berdetak, tetapi aku tak bisa menjelaskannya. Kutepuk-tepuk seluruh bagian depan tubuhku, dari bagian yang kusebut pinggang sampai ke kepala, lalu kuteruskan sedikit ke kedua sisi tubuh dan sedikit ke atas punggung. Tetapi tak ada yang bisa kurasakan atau kudengar. Kucoba melihat lidahku. Kujulurkan sejauh-jauhnya, kupejamkan satu mata, dan kucoba memeriksanya dengan mata yang satu lagi. Hanya ujungnya yang bisa kulihat, dan satu-satunya hasil yang kudapat ialah keyakinan yang lebih kuat daripada sebelumnya bahwa aku mengidap demam skarlatina.
Aku masuk ke ruang baca itu sebagai orang yang sehat dan bahagia. Aku merangkak keluar sebagai rongsokan reyot.
Aku pergi ke dokter langgananku. Ia sahabat lamaku; setiap kali aku mengira diriku sakit, ia memeriksa denyut nadiku, melihat lidahku, dan membicarakan cuaca, semuanya cuma-cuma; maka kupikir, dengan mengunjunginya sekarang, aku bisa membalas kebaikannya. “Yang diperlukan seorang dokter,” kataku, “adalah praktik. Biar ia menangani aku. Dariku ia akan mendapat lebih banyak latihan daripada dari seribu tujuh ratus pasien biasa yang masing-masing cuma mengidap satu atau dua penyakit.” Maka aku langsung menemuinya, dan ia berkata:
“Nah, kau sakit apa?”
Kataku:
“Aku tak akan menyita waktumu, kawan baikku, dengan menceritakan penyakit apa saja yang kuidap. Hidup ini singkat, dan kau mungkin meninggal sebelum aku selesai. Tetapi akan kukatakan penyakit apa yang tidak ku idap. Aku tidak mengidap radang lutut pelayan. Mengapa aku tidak mengidap radang lutut pelayan, aku tak bisa menjelaskannya; tetapi kenyataannya memang aku tidak mengidapnya. Namun, semua penyakit lain kuidap.”
Lalu kuceritakan bagaimana aku menemukan semua itu.
Kemudian ia membuka mulutku dan melongok ke dalamnya, mencengkeram pergelangan tanganku, lalu memukul dadaku tanpa kuduga—perbuatan pengecut, menurutku—dan tepat sesudahnya menyerudukku dengan sisi kepalanya. Setelah itu ia duduk, menulis resep, melipatnya, lalu memberikannya kepadaku; kumasukkan resep itu ke saku dan aku pun keluar.
Resep itu tidak kubuka. Kubawa ke apotek terdekat dan kuserahkan di sana. Orang itu membacanya, lalu mengembalikannya.
Katanya, ia tidak menyediakan barang itu.
Kataku:
“Anda apoteker?”
Katanya:
“Saya apoteker. Kalau saya ini gabungan toko koperasi dan hotel keluarga, mungkin saya bisa melayani Anda. Karena cuma apoteker, kemampuan saya terbatas.”
Kubaca resep itu. Bunyinya:
“1 pon bistik sapi, dengan 1 pint bir bitter
setiap 6 jam.
1 kali berjalan kaki sejauh sepuluh mil setiap pagi.
1 tempat tidur tepat pukul 11 setiap malam.
Dan jangan jejali kepalamu dengan hal-hal yang tak kaupahami.”
Aku mengikuti petunjuk itu, dengan hasil yang membahagiakan—setidaknya bagi diriku—karena hidupku terselamatkan dan masih berlanjut hingga kini.
Kembali ke selebaran pil hati tadi, kali ini jelas sekali aku mengalami gejala-gejalanya, terutama “keengganan umum untuk melakukan pekerjaan apa pun”.
Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan penderitaanku akibat gejala itu. Sejak masih bayi aku sudah tersiksa olehnya. Semasa kecil, nyaris tak sehari pun penyakit itu meninggalkanku. Waktu itu orang belum tahu bahwa penyebabnya adalah hatiku. Ilmu kedokteran masih jauh kurang maju daripada sekarang, dan mereka biasa menyebutnya kemalasan.
“Dasar setan kecil pemalas,” kata mereka, “bangun dan kerjakan sesuatu untuk mencari nafkah, bisa tidak?”—tentu saja mereka tidak tahu bahwa aku sakit.
Mereka tidak memberiku pil; mereka memukul sisi kepalaku. Dan, meskipun kedengarannya aneh, pukulan-pukulan di kepala itu sering menyembuhkanku—untuk sementara. Aku pernah merasakan satu pukulan di kepala lebih berpengaruh pada hatiku, dan membuatku lebih terdorong untuk segera pergi saat itu juga dan mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, tanpa membuang waktu lagi, daripada sekotak penuh pil sekarang.
Begitulah, memang sering begitu—obat-obat sederhana zaman dahulu kadang lebih manjur daripada segala ramuan apotek.
Selama setengah jam kami duduk di sana, saling menguraikan penyakit masing-masing. Kujelaskan kepada George dan William Harris apa yang kurasakan ketika bangun pagi, dan William Harris menceritakan kepada kami apa yang ia rasakan ketika hendak tidur; sementara George berdiri di permadani depan perapian dan menyuguhkan peragaan yang piawai dan penuh tenaga untuk menggambarkan apa yang ia rasakan pada malam hari.
George mengira dirinya sakit; tetapi sebenarnya tak pernah ada yang tidak beres dengannya, kau tahu.
Saat itu Mrs. Poppets mengetuk pintu untuk menanyakan apakah kami siap makan malam. Kami saling melempar senyum sedih dan berkata bahwa barangkali sebaiknya kami mencoba menelan sedikit makanan. Harris berkata bahwa sedikit isi perut sering bisa menahan penyakit agar tidak menjadi-jadi; lalu Mrs. Poppets membawa masuk baki, kami merapat ke meja, dan sekadar mencicipi sedikit bistik dengan bawang bombai serta sedikit pai rhubarb.
Aku pasti sangat lemah saat itu; sebab yang kuingat, setelah kira-kira setengah jam pertama, aku tampaknya sama sekali tak berminat lagi pada makananku—sesuatu yang tidak lazim bagiku—dan aku tidak ingin makan keju.
Setelah tugas itu selesai, kami mengisi lagi gelas, menyalakan pipa, dan melanjutkan pembicaraan tentang kesehatan kami. Tak seorang pun di antara kami bisa memastikan apa sebenarnya penyakit kami; tetapi kami sepakat bahwa penyakit itu—apa pun namanya—disebabkan oleh terlalu banyak bekerja.
“Yang kita perlukan ialah istirahat,” kata Harris.
“Istirahat dan perubahan suasana sepenuhnya,” kata George. “Ketegangan berlebihan pada otak kita membuat seluruh tubuh lesu. Pergantian pemandangan dan terbebas dari keharusan berpikir akan memulihkan keseimbangan pikiran.”
George punya sepupu yang dalam surat dakwaan biasanya disebut mahasiswa kedokteran, jadi sudah sewajarnya cara bicara George agak mirip dokter keluarga.
Aku sependapat dengan George dan mengusulkan agar kami mencari suatu tempat terpencil yang masih menyimpan suasana zaman silam, jauh dari hiruk-pikuk orang ramai, lalu menghabiskan sepekan cerah dengan melamun di jalan-jalan kecilnya yang terlelap—suatu ceruk yang nyaris terlupakan, disembunyikan para peri, di luar jangkauan dunia yang riuh—suatu sarang elang yang bertengger elok di tebing-tebing Waktu, tempat gelombang abad kesembilan belas yang bergelora akan terdengar sayup-sayup di kejauhan.
Harris berkata bahwa menurutnya tempat seperti itu akan membuat murung. Katanya, ia tahu tempat macam apa yang kumaksud; tempat semua orang tidur pukul delapan malam, koran Referee tak bisa didapat dengan cara apa pun, dan untuk membeli tembakau saja kau harus berjalan sepuluh mil.
“Tidak,” kata Harris, “kalau ingin istirahat dan berganti suasana, tak ada yang mengalahkan perjalanan laut.”
Aku sangat menentang perjalanan laut. Perjalanan laut baik untuk kesehatan kalau kaulakukan selama dua bulan, tetapi kalau cuma seminggu, sungguh kejam.
Kau berangkat hari Senin dengan keyakinan tertanam di dada bahwa kau akan bersenang-senang. Kaulambaikan salam perpisahan dengan enteng kepada kawan-kawan di darat, kaunyalakan pipamu yang paling besar, lalu kau berjalan mondar-mandir dengan pongah di geladak seolah-olah Kapten Cook, Sir Francis Drake, dan Kristoforus Kolumbus berpadu dalam dirimu. Hari Selasa, kau berharap tak pernah ikut. Hari Rabu, Kamis, dan Jumat, kau berharap sudah mati. Hari Sabtu, kau bisa menelan sedikit kaldu sapi dan duduk tegak di geladak, lalu menjawab dengan senyum manis yang pucat ketika orang-orang baik hati menanyakan bagaimana perasaanmu sekarang. Hari Minggu, kau mulai berjalan-jalan lagi dan menyantap makanan padat. Lalu pada Senin pagi, ketika kau berdiri di dekat bibir perahu dengan tas dan payung di tangan, menunggu giliran turun ke darat, kau mulai benar-benar menyukainya.
Aku ingat saudara iparku pernah melakukan pelayaran singkat demi kesehatannya. Ia memesan tempat tidur di kapal untuk perjalanan pulang-pergi dari London ke Liverpool; dan ketika tiba di Liverpool, satu-satunya yang merisaukannya ialah bagaimana menjual tiket pulangnya.
Kabarnya, tiket itu ditawarkan ke seluruh kota dengan potongan harga besar-besaran; akhirnya terjual seharga delapan belas penny kepada pemuda berwajah kekuningan yang baru saja disarankan oleh para dokternya agar pergi ke tepi laut dan berolahraga.
“Tepi laut!” kata saudara iparku sambil menyelipkan tiket itu ke tangan si pemuda dengan penuh kasih; “kau bakal mendapat jatah laut yang cukup untuk seumur hidup; dan soal olahraga! Kau akan mendapat lebih banyak olahraga dengan duduk di kapal itu daripada dengan berjungkir balik di darat.”
Ia sendiri—saudara iparku—pulang naik kereta api. Katanya, Kereta Api North-Western sudah cukup menyehatkan baginya.
Seorang kenalanku yang lain berlayar selama seminggu menyusuri pantai, dan sebelum kapal berangkat, pelayan kapal mendatanginya untuk menanyakan apakah ia hendak membayar setiap kali makan atau membuat kesepakatan lebih dahulu untuk seluruhnya.
Pelayan itu menyarankan pilihan kedua karena jauh lebih murah. Katanya, mereka bisa menyediakan makan sepanjang minggu untuknya dengan harga dua pound lima shilling. Untuk sarapan akan ada ikan, disusul daging panggang. Makan siang pukul satu, terdiri atas empat hidangan. Makan malam pukul enam—sup, ikan, entrée, potongan besar daging panggang, unggas, selada, penganan manis, keju, dan buah pencuci mulut. Lalu makan larut malam ringan dengan daging pukul sepuluh.
Kawanku merasa sebaiknya ia mengambil tawaran dua pound lima shilling itu (makannya memang banyak), dan ia pun mengambilnya.
Makan siang tiba ketika kapal berada di lepas pantai Sheerness. Ia tak selapar yang dibayangkannya, jadi ia cukup makan sedikit daging sapi rebus serta stroberi dengan krim. Sepanjang sore ia banyak merenung; pada suatu saat rasanya ia sudah berminggu-minggu tidak makan apa-apa selain daging sapi rebus, dan pada saat lain rasanya ia sudah bertahun-tahun hidup dari stroberi dan krim saja.
Daging sapi maupun stroberi dan krim itu tampaknya juga tidak bahagia—seolah tak kerasan.
Pukul enam, orang datang memberitahunya bahwa makan malam siap. Pengumuman itu sama sekali tak membangkitkan semangatnya, tetapi ia merasa sebagian uang dua pound lima shilling itu masih harus ditebus dengan makanan, maka ia turun sambil berpegangan pada tali dan apa saja yang ada. Aroma sedap bawang bombai dan ham panas, bercampur ikan goreng dan sayuran hijau, menyambutnya di kaki tangga; lalu pelayan kapal mendekat dengan senyum licin dan berkata:
“Apa yang bisa saya bawakan untuk Tuan?”
“Bawa saya keluar dari sini,” jawabnya lemah.
Buru-buru mereka membawanya ke atas, menyandarkannya di sisi yang terlindung dari angin, lalu meninggalkannya.
Selama empat hari berikutnya ia hidup sederhana tanpa cela, hanya menyantap biskuit kapten yang tipis-tipis (maksudku biskuitnya yang tipis, bukan kaptennya yang kurus) dan air soda; tetapi menjelang Sabtu ia mulai sok penting dan mencoba teh encer serta roti panggang tanpa olesan, dan hari Senin ia melahap kaldu ayam dengan rakus. Ia turun dari kapal pada hari Selasa, dan ketika kapal uap itu meninggalkan dermaga, ia menatapnya menjauh dengan penuh penyesalan.
“Itu dia berangkat,” katanya, “itu dia berangkat, membawa makanan senilai dua pound milikku yang belum kumakan.”
Katanya, kalau mereka memberinya satu hari lagi, ia rasa bisa membuat hitungannya impas.
Maka aku menentang keras perjalanan laut. Seperti yang kujelaskan, bukan demi diriku sendiri. Aku tak pernah mabuk laut. Tetapi aku mengkhawatirkan George. George berkata ia pasti baik-baik saja dan malah akan cukup menyukainya, tetapi ia menyarankan agar Harris dan aku tak usah mempertimbangkannya, sebab ia yakin kami berdua pasti mabuk laut. Harris berkata bahwa baginya selalu menjadi misteri bagaimana orang bisa sampai mabuk laut—menurutnya orang pasti sengaja melakukannya, sekadar berlagak—katanya ia sudah sering ingin mabuk laut, tetapi tak pernah berhasil.
Lalu ia menceritakan pengalamannya menyeberangi Selat Inggris ketika laut begitu ganas sehingga para penumpang harus diikat pada tempat tidur masing-masing, dan hanya ia serta kapten yang tidak mabuk di antara semua jiwa di kapal itu. Kadang yang tidak mabuk adalah ia dan mualim kedua; tetapi biasanya ia dan seorang lain. Kalau bukan ia dan seorang lain, berarti hanya ia sendiri.
Sungguh aneh, tetapi tak seorang pun pernah mabuk laut—di darat. Di laut, kau menjumpai banyak sekali orang yang parah keadaannya, sampai berkapal-kapal penuh; tetapi di darat, belum pernah kutemui orang yang pernah tahu sedikit saja bagaimana rasanya mabuk laut. Ke mana ribuan demi ribuan orang yang gampang mabuk laut, yang memenuhi setiap kapal itu, bersembunyi ketika berada di darat, sungguh suatu misteri.
Kalau kebanyakan orang seperti seseorang yang pernah kulihat di kapal tujuan Yarmouth, teka-teki itu bisa kujelaskan dengan mudah. Kalau tak salah ingat, kami tepat berada di lepas Dermaga Southend, dan ia menjulurkan tubuh lewat salah satu jendela lambung kapal dalam posisi yang sangat berbahaya. Aku menghampirinya untuk mencoba menyelamatkannya.
“Hei! Tarik tubuh Anda lebih ke dalam,” kataku sambil mengguncang bahunya. “Nanti Anda jatuh ke laut.”
“Aduh! Kalau saja bisa,” hanya itulah jawaban yang berhasil kuperoleh; maka terpaksa aku meninggalkannya di situ.
Tiga minggu kemudian, aku bertemu dengannya di ruang makan sebuah hotel di Bath; ia membicarakan perjalanan-perjalanan lautnya dan menerangkan dengan penuh semangat betapa ia mencintai laut.
“Tak gampang mabuk laut!” jawabnya menanggapi pertanyaan bernada iri dari seorang pemuda berwatak lembut; “ya, saya akui, saya pernah sekali merasa agak tak enak badan. Itu di lepas Tanjung Horn. Kapalnya karam keesokan paginya.”
Kataku:
“Bukankah suatu hari di dekat Dermaga Southend Anda agak sempoyongan dan ingin dilemparkan ke laut?”
“Dermaga Southend!” jawabnya dengan wajah bingung.
“Ya; waktu berangkat ke Yarmouth, hari Jumat tiga minggu yang lalu.”
“Oh, ah—ya,” jawabnya, wajahnya kembali cerah, “sekarang saya ingat. Saya memang sakit kepala sore itu. Gara-gara acar, Anda tahu. Belum pernah saya mencicipi acar seburuk itu di kapal baik-baik. Apakah Anda ikut memakannya?”
Aku sendiri sudah menemukan cara yang sangat baik untuk mencegah mabuk laut, yakni menjaga keseimbangan tubuh. Kau berdiri di tengah geladak, dan ketika kapal naik-turun serta terangguk-angguk, kaugerakkan tubuh agar selalu tegak. Ketika bagian depan kapal terangkat, kaucondongkan tubuh ke depan sampai geladak nyaris menyentuh hidungmu; dan ketika bagian belakangnya naik, kaucondongkan tubuh ke belakang. Cara ini memang baik untuk satu atau dua jam; tetapi kau tak bisa menjaga keseimbangan tubuh selama seminggu.
George berkata:
“Mari kita menyusuri sungai ke hulu.”
Katanya, kami akan mendapat udara segar, olahraga, dan ketenangan; pergantian pemandangan yang terus-menerus akan menyibukkan pikiran kami (termasuk sedikit yang dimiliki Harris); dan kerja keras akan membuat kami lahap makan serta tidur nyenyak.
Harris berkata bahwa menurutnya George tak seharusnya melakukan apa pun yang bisa membuatnya lebih mengantuk daripada biasanya, sebab itu mungkin berbahaya. Katanya, ia tidak begitu mengerti bagaimana George bisa tidur lebih lama lagi daripada sekarang, mengingat sehari hanya ada dua puluh empat jam, baik musim panas maupun musim dingin; tetapi menurutnya, kalau ia memang tidur lebih lama lagi, lebih baik ia mati saja, sekalian menghemat ongkos makan dan tempat tinggal.
Namun, Harris berkata bahwa sungai itu cocok betul baginya—cocok sampai ke T-nya. Aku tak tahu apa itu “T” (kecuali teh seharga enam penny, yang sudah mencakup roti bermentega dan kue ad lib, dan terhitung murah untuk harga segitu kalau kau belum makan siang). Namun, tampaknya T itu cocok untuk semua orang, suatu kelebihan yang sangat patut dipuji.
Bagiku pun cocok sampai ke T-nya, dan Harris serta aku sama-sama berkata bahwa gagasan George itu bagus; kami mengatakannya dengan nada yang entah bagaimana menyiratkan keheranan bahwa George bisa melontarkan sesuatu yang begitu masuk akal.
Satu-satunya yang tidak terpikat oleh usul itu adalah Montmorency. Ia memang tak pernah suka sungai, Montmorency itu.
“Buat kalian memang enak,” katanya; “kalian suka, tetapi aku tidak. Tak ada yang bisa kukerjakan. Pemandangan bukan kesukaanku, dan aku tidak merokok. Kalau aku melihat tikus, kalian tak mau berhenti; dan kalau aku tidur, kalian bermain-main dengan perahu sampai aku tercebur. Kalau kalian tanya pendapatku, semua ini kebodohan sialan.”
Namun, suara kami tiga lawan satu, dan usul itu pun disetujui.




