Lewati ke konten utama

Baca bab 1 gratis. Tanpa daftar.

Cari buku atau genre
Keranjang

Keranjang Anda masih kosong.

Jelajahi semua buku

Buka atau tutup menu
Sampul buku “Kidung Natal” karya Charles Dickens

Sampel gratis

Kidung Natal

Karya Charles Dickens

Karya klasik dalam domain publik oleh Charles Dickens · Terjemahan baru oleh NovelSpell

Pilih edisi

Kidung Natal

Charles Dickens

Bab 1: Hantu Marley

Marley sudah mati, itu yang pertama-tama harus dikatakan. Tak ada keraguan sedikit pun mengenai hal itu. Catatan pemakamannya ditandatangani oleh pendeta, juru tulis gereja, pengurus pemakaman, dan pelayat utama. Scrooge menandatanganinya. Dan di Bursa, nama Scrooge menjadi jaminan bagi apa pun yang hendak dibubuhinya tanda tangan. Marley tua sudah mati bagai paku pintu.

Camkan! Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya tahu dari pengalaman sendiri, apa yang begitu mati pada sebuah paku pintu. Saya sendiri barangkali lebih cenderung menganggap paku peti mati sebagai barang besi paling mati yang diperdagangkan orang. Tetapi kebijaksanaan nenek moyang kita tersimpan dalam perumpamaan itu; dan tangan saya yang tak suci ini tak akan mengusiknya, kalau tidak, tamatlah riwayat negeri ini. Karena itu, izinkan saya mengulangi, dengan tegas, bahwa Marley sudah mati bagai paku pintu.

Scrooge tahu dia sudah mati? Tentu saja tahu. Mana mungkin tidak? Scrooge dan Marley menjadi rekan usaha entah berapa tahun lamanya. Scrooge adalah satu-satunya pelaksana wasiatnya, satu-satunya pengurus harta peninggalannya, satu-satunya penerima pengalihan haknya, satu-satunya penerima sisa warisannya, satu-satunya sahabatnya, dan satu-satunya pelayatnya. Bahkan Scrooge pun tidak begitu remuk oleh peristiwa menyedihkan itu hingga kehilangan kecakapannya sebagai pengusaha pada hari pemakaman itu sendiri; dia memperingati peristiwa tersebut dengan transaksi yang jelas menguntungkan.

Menyebut pemakaman Marley membawa saya kembali ke pokok yang mengawali cerita ini. Tak diragukan lagi, Marley sudah mati. Hal ini harus dipahami dengan jelas, kalau tidak, tak akan ada keajaiban dalam cerita yang hendak saya kisahkan. Seandainya kita tidak yakin sepenuhnya bahwa ayah Hamlet meninggal sebelum lakon dimulai, tindakannya berjalan-jalan pada malam hari, diterpa angin timur, di atas tembok bentengnya sendiri tak akan lebih mengherankan daripada seorang tuan setengah baya lain yang dengan gegabah keluar selepas gelap ke suatu tempat berangin—katakanlah halaman Gereja Santo Paulus, misalnya—semata-mata untuk mengejutkan pikiran putranya yang lemah.

Scrooge tak pernah menghapus nama Marley tua dengan cat. Bertahun-tahun kemudian, nama itu masih terpampang di atas pintu gudang: Scrooge and Marley. Firma itu dikenal dengan nama Scrooge and Marley. Kadang-kadang orang yang baru berurusan dengan firma itu memanggil Scrooge dengan nama Scrooge, kadang-kadang Marley, tetapi dia menyahut untuk kedua nama itu. Baginya sama saja.

Oh! Scrooge itu memang pekerja keras yang kikirnya bukan main! Pendosa tua yang memeras, merenggut, meraup, mengeruk, mencengkeram, dan serakah! Keras dan tajam bagai batu api yang tak pernah memercikkan api kemurahan hati meski dipukul baja; serba tertutup, tak membutuhkan siapa pun, dan menyendiri bagai tiram. Hawa dingin dalam dirinya membekukan raut wajah tuanya, menggigit hidungnya yang runcing, mengerutkan pipinya, mengakukan langkahnya; memerahkan matanya, membirukan bibirnya yang tipis; dan terdengar tajam dalam suaranya yang parau. Embun beku menyelimuti kepala, alis, dan dagunya yang berbulu kaku. Ke mana pun pergi, dia membawa hawa dinginnya sendiri; kantornya dibuatnya sedingin es pada hari-hari terpanas musim panas, dan pada Natal pun tak dibiarkannya mencair barang satu derajat.

Panas dan dingin dari luar tak banyak berpengaruh pada Scrooge. Kehangatan apa pun tak dapat menghangatkannya, cuaca musim dingin apa pun tak dapat membuatnya menggigil. Tak ada angin yang lebih menusuk daripada dirinya, tak ada salju yang turun dengan tekad lebih bulat, tak ada hujan yang mencurah lebih kebal terhadap permohonan. Cuaca buruk tak tahu bagaimana hendak menaklukkannya. Hujan paling deras, salju, hujan es, dan hujan bercampur salju hanya dapat membanggakan satu keunggulan atas dirinya. Semua itu kerap “mengucur” dengan murah hati, sedangkan Scrooge tak pernah.

Tak pernah ada orang menghentikannya di jalan untuk berkata dengan wajah riang, “Scrooge sahabatku, apa kabar? Kapan kau akan mengunjungiku?” Tak ada pengemis memohon sedekah kepadanya, tak ada anak menanyakan pukul berapa, tak ada lelaki ataupun perempuan, sekali pun sepanjang hidupnya, yang menanyakan jalan ke suatu tempat kepada Scrooge. Bahkan anjing-anjing penuntun orang buta tampaknya mengenal dia; dan bila melihatnya datang, anjing-anjing itu menyeret pemiliknya ke ceruk pintu dan masuk ke lorong-lorong; lalu mengibas-ngibaskan ekor seolah berkata, “Lebih baik tak punya mata sama sekali daripada bermata jahat, tuanku yang hidup dalam gelap!”

Tetapi apa pedulinya Scrooge? Justru itulah yang disukainya. Menyusup di antara sesaknya jalan kehidupan, sambil memperingatkan segala simpati manusia agar menjaga jarak, itulah yang menurut istilah orang-orang yang tahu menjadi “kesenangan” Scrooge.

Pada suatu hari—dari sekian banyak hari baik sepanjang tahun, justru pada Malam Natal—Scrooge tua duduk sibuk di kantor pembukuannya. Cuaca dingin, muram, menggigit; berkabut pula; dan dia dapat mendengar orang-orang di lorong luar berlalu-lalang sambil bernapas terengah, menepuk-nepukkan tangan ke dada, dan mengentakkan kaki ke batu-batu jalan untuk menghangatkannya. Jam-jam di kawasan City baru saja berdentang pukul tiga, tetapi hari sudah gelap gulita—sepanjang hari pun tak pernah terang—dan nyala lilin berkobar di jendela kantor-kantor tetangga, seperti sapuan kemerahan pada udara cokelat yang terasa padat. Kabut mengalir masuk lewat setiap celah dan lubang kunci, dan di luar begitu pekat sehingga, meskipun lorong itu amat sempit, rumah-rumah di seberang hanya tampak sebagai sosok-sosok gaib. Melihat awan kusam itu merunduk turun, mengaburkan segala sesuatu, orang mungkin mengira alam tinggal tak jauh dari sana dan tengah membuat bir besar-besaran.

Pintu kantor pembukuan Scrooge terbuka supaya dia dapat mengawasi juru tulisnya, yang menyalin surat di sebuah bilik kecil suram di sebelah sana, semacam bak. Api Scrooge sangat kecil, tetapi api juru tulisnya jauh lebih kecil lagi hingga tampak seperti sebongkah batu bara saja. Namun, dia tak dapat menambah bahan bakar, sebab Scrooge menyimpan kotak batu bara di ruangannya sendiri; dan setiap kali juru tulis itu masuk membawa sekop, sang majikan meramalkan bahwa mereka terpaksa harus berpisah. Maka juru tulis itu mengenakan syal putihnya dan mencoba menghangatkan diri pada nyala lilin; usaha yang gagal, sebab daya khayalnya tidaklah kuat.

“Selamat Natal, Paman! Semoga Tuhan melindungi Paman!” seru suara riang. Itulah suara keponakan lelaki Scrooge, yang datang begitu cepat sehingga sapaan itulah pemberitahuan pertama bagi Scrooge tentang kedatangannya.

“Cih!” kata Scrooge. “Omong kosong!”

Keponakan lelaki Scrooge itu berjalan begitu cepat menembus kabut dan embun beku hingga sekujur tubuhnya hangat berseri; wajahnya kemerahan dan tampan; matanya berbinar, dan napasnya mengepulkan uap.

“Natal itu omong kosong, Paman!” kata keponakan lelaki Scrooge. “Aku yakin Paman tidak sungguh-sungguh bermaksud begitu?”

“Memang begitu maksudku,” kata Scrooge. “Selamat Natal! Apa hakmu untuk bergembira? Apa alasanmu untuk bergembira? Kau toh miskin.”

“Nah, kalau begitu,” sahut keponakan lelakinya dengan riang. “Apa hak Paman untuk muram? Apa alasan Paman untuk bermuka masam? Paman toh kaya.”

Karena saat itu tak menemukan jawaban yang lebih baik, Scrooge kembali berkata, “Cih!” lalu menyusulinya dengan, “Omong kosong!”

“Jangan marah-marah, Paman!” kata keponakan lelakinya.

“Aku mesti bagaimana lagi,” sahut sang paman, “kalau hidup di dunia yang penuh orang tolol begini? Selamat Natal! Persetan dengan selamat Natal! Apa arti masa Natal bagimu selain waktu untuk membayar tagihan tanpa punya uang; waktu untuk mendapati dirimu setahun lebih tua, tetapi tak sejam pun lebih kaya; waktu untuk menyeimbangkan pembukuan dan mendapati setiap pos selama dua belas bulan penuh merugikanmu? Kalau aku boleh berbuat sekehendak hati,” kata Scrooge dengan geram, “setiap orang dungu yang berkeliaran dengan ucapan ‘Selamat Natal’ di bibirnya harus direbus bersama pudingnya sendiri, lalu dikubur dengan pasak kayu holly menembus jantungnya. Begitulah seharusnya!”

“Paman!” pinta keponakan lelakinya.

“Keponakan!” sahut sang paman dengan keras, “rayakan Natal dengan caramu sendiri, dan biarkan aku merayakannya dengan caraku.”

“Merayakannya!” ulang keponakan lelaki Scrooge. “Tapi Paman tidak merayakannya.”

“Kalau begitu, biarkan aku tak menghiraukannya,” kata Scrooge. “Semoga besar manfaatnya bagimu! Memang besar sekali manfaat yang pernah diberikannya kepadamu!”

“Kurasa ada banyak hal yang bisa mendatangkan kebaikan bagiku, meskipun tak memberiku keuntungan,” sahut keponakan lelakinya, “dan Natal termasuk di antaranya. Tetapi aku yakin, setiap kali masa Natal tiba—terlepas dari penghormatan yang patut diberikan kepada nama serta asal-usulnya yang suci, kalau memang ada sesuatu tentang Natal yang dapat dilepaskan dari itu—aku selalu menganggapnya masa yang baik; masa yang penuh kebaikan hati, pengampunan, kedermawanan, dan kesenangan; satu-satunya masa yang kukenal, dalam panjangnya penanggalan setahun, ketika lelaki dan perempuan seolah sepakat untuk membuka hati mereka yang terkunci dengan sukarela, dan memandang orang-orang di bawah mereka seolah benar-benar sesama penumpang dalam perjalanan menuju kubur, bukannya golongan makhluk lain yang menempuh perjalanan berbeda. Karena itu, Paman, meskipun Natal tak pernah memasukkan secuil emas ataupun perak ke sakuku, aku percaya Natal memang mendatangkan kebaikan bagiku dan akan terus mendatangkan kebaikan bagiku; dan aku berkata, semoga Tuhan memberkati Natal!”

Juru tulis di dalam bak itu tanpa sadar bertepuk tangan. Begitu menyadari ketidakpatutannya, dia mengorek api, dan memadamkan percikan lemah terakhir untuk selama-lamanya.

“Kalau sampai kudengar satu bunyi lagi dari kau,” kata Scrooge, “kau akan merayakan Natal dengan kehilangan pekerjaan! Kau pandai sekali berpidato, Tuan,” tambahnya, beralih kepada keponakan lelakinya. “Heran aku, mengapa kau tidak masuk Parlemen.”

“Jangan marah, Paman. Ayolah! Makan malam bersama kami besok.”

Scrooge mengatakan bahwa dia lebih suka melihat keponakannya itu—Ya, sungguh, memang itulah katanya. Dia mengucapkan makian itu selengkapnya, dan berkata lebih baik melihat keponakannya menemui nasib terkutuk itu terlebih dahulu.

“Tapi mengapa?” seru keponakan lelaki Scrooge. “Mengapa?”

“Mengapa kau menikah?” kata Scrooge.

“Karena aku jatuh cinta.”

“Karena kau jatuh cinta!” geram Scrooge, seolah itulah satu-satunya hal di dunia yang lebih menggelikan daripada ucapan selamat Natal. “Selamat siang!”

“Tapi, Paman, sebelum itu pun Paman tak pernah mengunjungiku. Mengapa sekarang hal itu dijadikan alasan untuk tidak datang?”

“Selamat siang,” kata Scrooge.

“Aku tidak menginginkan apa pun dari Paman; aku tidak meminta apa pun kepada Paman; mengapa kita tak bisa bersahabat?”

“Selamat siang!” kata Scrooge.

“Aku sungguh sedih mendapati Paman begitu berkeras. Kita tak pernah berselisih karena perbuatanku. Tetapi aku sudah berusaha demi menghormati Natal, dan akan tetap riang sampai akhir. Jadi, selamat Natal, Paman!”

“Selamat siang,” kata Scrooge.

“Dan selamat Tahun Baru!”

“Selamat siang!” kata Scrooge.

Meski begitu, keponakan lelakinya meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata marah. Dia berhenti di pintu luar untuk menyampaikan ucapan hari raya kepada juru tulis itu, yang, meskipun kedinginan, lebih hangat daripada Scrooge; sebab dia membalasnya dengan ramah.

“Itu seorang lagi,” gumam Scrooge, yang mendengarnya, “juru tulisku, dengan upah lima belas syiling seminggu, seorang istri dan anak-anak, bicara soal selamat Natal. Aku akan pensiun ke Bedlam saja.”

Ketika mengantar keponakan lelaki Scrooge keluar, orang gila ini membiarkan dua orang lain masuk. Mereka tuan-tuan bertubuh tambun yang menyenangkan dipandang, dan kini berdiri tanpa topi di kantor Scrooge. Mereka memegang buku serta kertas, dan membungkuk kepadanya.

“Ini kantor Scrooge and Marley, kalau saya tidak salah,” kata salah seorang tuan itu sambil memeriksa daftarnya. “Apakah saya mendapat kehormatan berbicara dengan Mr. Scrooge, atau Mr. Marley?”

“Mr. Marley sudah meninggal tujuh tahun,” jawab Scrooge. “Dia meninggal tepat pada malam ini, tujuh tahun silam.”

“Kami yakin kemurahan hatinya terwakili dengan baik oleh rekan usahanya yang masih hidup,” kata tuan itu sambil menyerahkan surat pengantarnya.

Memang terwakili dengan baik; sebab keduanya sejiwa. Mendengar kata “kemurahan hati” yang membawa pertanda buruk itu, Scrooge mengernyit, menggeleng, lalu mengembalikan surat pengantar tersebut.

“Pada masa perayaan seperti ini, Mr. Scrooge,” kata tuan itu sambil mengambil pena, “lebih dari biasanya kita perlu menyediakan sedikit bantuan bagi kaum miskin dan papa, yang sangat menderita saat ini. Beribu-ribu orang kekurangan kebutuhan pokok; beratus-ratus ribu orang tak memiliki kenyamanan hidup yang paling sederhana, Tuan.”

“Bukankah ada penjara?” tanya Scrooge.

“Banyak penjara,” kata tuan itu sambil meletakkan penanya kembali.

“Dan panti kerja gabungan paroki?” desak Scrooge. “Masih beroperasi?”

“Masih. Namun,” sahut tuan itu, “saya berharap bisa mengatakan sebaliknya.”

“Kalau begitu, hukuman roda injak dan Undang-Undang Kaum Miskin masih berlaku sepenuhnya?” kata Scrooge.

“Keduanya sangat sibuk, Tuan.”

“Oh! Mendengar ucapan Anda tadi, saya khawatir ada sesuatu yang menghambat kegiatan mereka yang bermanfaat itu,” kata Scrooge. “Senang sekali saya mendengarnya.”

“Karena kami beranggapan bahwa semua itu nyaris tak memberi penghiburan Kristiani bagi jiwa maupun raga orang banyak,” sahut tuan itu, “beberapa orang di antara kami berusaha menghimpun dana untuk membelikan kaum miskin sedikit daging, minuman, serta sarana untuk menghangatkan diri. Kami memilih masa ini karena, dibandingkan masa-masa lain, pada saat inilah Kemelaratan terasa begitu pedih, sementara Kelimpahan bersukaria. Berapa sumbangan yang boleh saya catat atas nama Anda?”

“Tidak ada!” jawab Scrooge.

“Anda ingin nama Anda dirahasiakan?”

“Saya ingin dibiarkan sendiri,” kata Scrooge. “Karena Tuan-Tuan menanyakan keinginan saya, itulah jawaban saya. Saya sendiri tidak bersenang-senang pada Natal, dan saya tak sanggup membiayai kesenangan orang-orang malas. Saya turut membiayai lembaga-lembaga yang tadi saya sebutkan—biayanya sudah cukup besar; dan mereka yang berkekurangan mesti pergi ke sana.”

“Banyak yang tidak bisa pergi ke sana; dan banyak yang lebih suka mati.”

“Kalau mereka lebih suka mati,” kata Scrooge, “lebih baik mereka melakukannya, dan mengurangi kelebihan penduduk. Lagi pula—maaf—saya tidak tahu soal itu.”

“Tetapi Anda bisa mencari tahu,” ujar tuan itu.

“Itu bukan urusan saya,” sahut Scrooge. “Cukuplah orang memahami urusannya sendiri, tanpa mencampuri urusan orang lain. Urusan saya sendiri menyita seluruh waktu saya. Selamat siang, Tuan-Tuan!”

Karena jelas bahwa melanjutkan usaha mereka tak akan ada gunanya, kedua tuan itu undur diri. Scrooge kembali bekerja dengan penilaian yang lebih baik terhadap dirinya sendiri, dan dengan suasana hati yang lebih suka berkelakar daripada biasanya.

Sementara itu, kabut dan kegelapan semakin pekat sehingga orang-orang berlarian membawa obor menyala, menawarkan jasa untuk berjalan di depan kuda-kuda penarik kereta dan menuntun mereka di jalan. Menara gereja tua, yang lonceng tuanya bersuara parau selalu mengintip Scrooge diam-diam dari sebuah jendela Gotik di dindingnya, lenyap dari pandangan, lalu membunyikan jam dan setiap seperempat jam di dalam awan, disusul dengung bergetar, seakan giginya bergemeletuk dalam kepalanya yang membeku di atas sana. Hawa dingin semakin menggigit. Di jalan utama, pada sudut lorong, beberapa buruh memperbaiki pipa gas dan menyalakan api besar dalam sebuah anglo, yang dikerumuni lelaki serta anak-anak lelaki berpakaian compang-camping: mereka menghangatkan tangan dan mengerjap-ngerjapkan mata di depan kobaran api dengan nikmat. Keran air jalanan yang dibiarkan sendiri tiba-tiba membekukan air luapannya menjadi es pembenci manusia. Terang toko-toko, tempat ranting serta buah holly berkeretak oleh panas lampu di jendela, membuat wajah-wajah pucat tampak kemerahan ketika lewat. Kegiatan jual beli di toko unggas dan toko bahan makanan berubah menjadi senda gurau yang gemilang: sebuah pawai megah, yang nyaris mustahil dipercaya ada hubungannya dengan asas-asas membosankan seperti tawar-menawar dan jual beli. Wali Kota, di dalam benteng Mansion House yang megah, memerintahkan kelima puluh juru masak dan kepala pelayannya untuk merayakan Natal sebagaimana layaknya rumah tangga seorang Wali Kota; bahkan penjahit bertubuh kecil, yang didendanya lima syiling pada hari Senin sebelumnya karena mabuk dan haus darah di jalanan, mengaduk puding untuk esok hari di kamar lotengnya, sementara istrinya yang kurus berangkat bersama bayi mereka untuk membeli daging sapi.

Kabut semakin pekat, hawa semakin dingin! Dingin yang menusuk, menyusup, menggigit. Seandainya Santo Dunstan yang baik itu menjepit hidung Roh Jahat dengan sedikit cuaca seperti itu, alih-alih memakai perkakasnya yang biasa, pastilah Roh Jahat itu meraung sepuas-puasnya. Pemilik sebatang hidung muda yang kecil, yang digerogoti dan dikunyah hawa dingin lapar seperti tulang digerogoti anjing, membungkuk ke lubang kunci Scrooge untuk menghiburnya dengan lagu Natal; tetapi, begitu terdengar bunyi pertama dari

“Semoga Tuhan memberkatimu, tuan yang bergembira,

Janganlah apa pun membuatmu gentar!”

Scrooge menyambar penggaris dengan begitu bersemangat sehingga penyanyi itu lari ketakutan, meninggalkan lubang kunci bagi kabut dan embun beku yang bahkan lebih bersahabat.

Akhirnya tibalah saat menutup kantor pembukuan. Dengan enggan Scrooge turun dari bangkunya, dan tanpa kata-kata mengakui kenyataan itu kepada juru tulis di dalam bak yang sudah menanti-nanti; juru tulis itu segera memadamkan lilinnya dan mengenakan topi.

“Kau pasti ingin libur seharian besok, bukan?” kata Scrooge.

“Kalau tidak merepotkan, Tuan.”

“Itu merepotkan,” kata Scrooge, “dan tidak adil. Kalau upahmu kupotong setengah crown untuk itu, pasti kau akan merasa diperlakukan tidak patut, bukan?”

Juru tulis itu tersenyum lemah.

“Namun,” kata Scrooge, “kau tidak merasa aku diperlakukan tidak patut ketika membayar upah sehari tanpa mendapat hasil kerja.”

Juru tulis itu mengemukakan bahwa hal itu hanya terjadi sekali setahun.

“Alasan yang buruk untuk mencopet orang setiap tanggal dua puluh lima Desember!” kata Scrooge sambil mengancingkan mantel panjangnya sampai ke dagu. “Tapi kurasa kau memang harus mendapat libur sehari penuh. Datanglah lebih pagi lagi keesokan harinya.”

Juru tulis itu berjanji akan melakukannya; dan Scrooge keluar sambil menggeram. Kantor ditutup dalam sekejap, lalu juru tulis itu, dengan ujung-ujung panjang syal putih menjuntai melewati pinggangnya (sebab dia tak punya mantel panjang), ikut meluncur di lintasan licin di Cornhill, paling belakang dalam barisan anak-anak lelaki, sebanyak dua puluh kali demi merayakan Malam Natal, lalu berlari pulang ke Camden Town secepat-cepatnya untuk bermain buta-butaan.

Scrooge menyantap makan malamnya yang muram di kedai muram langganannya; setelah membaca semua surat kabar dan menghabiskan sisa malam dengan buku banknya, dia pulang untuk tidur. Dia tinggal di serangkaian kamar yang dahulu milik mendiang rekan usahanya. Kamar-kamar itu suram, berada di sebuah gedung murung di ujung halaman, yang begitu tidak pada tempatnya sehingga orang mau tak mau membayangkan gedung itu pasti berlari ke sana ketika masih kecil, bermain petak umpet dengan rumah-rumah lain, lalu lupa jalan keluar. Kini gedung itu cukup tua, dan cukup muram pula; sebab tak ada yang tinggal di sana selain Scrooge, sementara semua ruangan lain disewakan sebagai kantor. Halaman begitu gelap sehingga bahkan Scrooge, yang mengenal setiap batunya, terpaksa meraba-raba dengan tangan. Kabut dan embun beku begitu menggelayuti gerbang tua kehitaman rumah itu sehingga seolah Roh Penjaga Cuaca duduk merenung dengan sedih di ambang pintu.

Nah, kenyataannya, tak ada yang istimewa pada pengetuk pintu itu, kecuali ukurannya yang sangat besar. Kenyataan pula bahwa Scrooge melihatnya setiap malam dan pagi sepanjang dia tinggal di sana; juga bahwa Scrooge sama miskinnya akan apa yang disebut daya khayal dengan siapa pun di City of London, bahkan termasuk—sungguh berani saya mengatakan ini—pemerintah kota, para anggota dewan kota, dan anggota serikat niaga. Ingat pula bahwa Scrooge sama sekali tidak memikirkan Marley sejak terakhir kali menyebut rekan usahanya yang sudah tujuh tahun meninggal itu pada sore tadi. Setelah itu, silakan siapa pun menjelaskan kepada saya, kalau sanggup, bagaimana bisa terjadi bahwa Scrooge, dengan anak kunci di lubang kunci pintu, melihat pada pengetuk pintu itu, tanpa melalui perubahan sedikit pun—bukan pengetuk pintu, melainkan wajah Marley.

Wajah Marley. Wajah itu tidak terbenam dalam bayang-bayang tak tertembus seperti benda-benda lain di halaman, tetapi diliputi cahaya muram, seperti lobster busuk di ruang bawah tanah yang gelap. Wajah itu tidak marah ataupun buas, tetapi menatap Scrooge seperti dahulu Marley menatapnya; dengan kacamata gaib terangkat ke dahi gaibnya. Rambutnya bergerak aneh, seolah diembus napas atau udara panas; dan meskipun matanya terbuka lebar, keduanya sama sekali tidak bergerak. Hal itu, bersama warnanya yang pucat kelabu, membuatnya mengerikan; tetapi kengerian itu seolah timbul bertentangan dengan kehendak wajah tersebut dan di luar kendalinya, bukannya menjadi bagian dari rautnya sendiri.

Ketika Scrooge menatap keanehan itu lekat-lekat, benda itu kembali menjadi pengetuk pintu.

Tidaklah benar kalau dikatakan dia tidak terkejut, atau darahnya tidak merasakan kengerian dahsyat yang tak pernah dikenalnya sejak bayi. Tetapi dia kembali memegang anak kunci yang tadi dilepasnya, memutarnya dengan mantap, masuk, lalu menyalakan lilin.

Dia memang berhenti sejenak, bimbang, sebelum menutup pintu; dan dia memang lebih dahulu menengok dengan hati-hati ke baliknya, seolah setengah mengira akan dibuat ketakutan oleh kuncir Marley yang mencuat ke ruang depan. Tetapi tak ada apa pun di balik pintu selain sekrup dan mur yang menahan pengetuk pintu, maka dia berkata, “Ah, ah!” lalu membantingnya hingga tertutup.

Bunyinya bergema ke seluruh rumah seperti guntur. Setiap ruangan di atas, dan setiap tong dalam ruang bawah tanah milik saudagar anggur di bawah, seolah mempunyai deretan gemanya masing-masing. Scrooge bukan orang yang bisa ditakut-takuti oleh gema. Dia mengunci pintu, melintasi ruang depan, lalu menaiki tangga: perlahan-lahan pula: sambil merapikan sumbu lilinnya.

Anda boleh saja bicara sekenanya tentang membawa kereta berpenarik enam ekor kuda menaiki tangga tua yang bagus, atau menerobos undang-undang baru Parlemen yang buruk; tetapi yang saya maksudkan, sebuah kereta jenazah bisa dibawa menaiki tangga itu, bahkan dalam posisi melintang, dengan palang pengikat kuda menghadap dinding dan pintunya menghadap susuran tangga: dan itu bisa dilakukan dengan mudah. Tangga itu cukup lebar, bahkan masih menyisakan ruang; barangkali itulah sebabnya Scrooge mengira dia melihat kereta jenazah bergerak sendiri di depannya dalam kegelapan. Setengah lusin lampu gas dari jalan pun tak akan dapat menerangi jalan masuk itu dengan baik, jadi dapat Anda bayangkan betapa gelapnya dengan lilin lemak Scrooge.

Scrooge terus naik, sama sekali tak memedulikan hal itu. Kegelapan itu murah, dan Scrooge menyukainya. Tetapi sebelum menutup pintunya yang berat, dia memeriksa kamar-kamarnya untuk memastikan semuanya beres. Ingatan tentang wajah tadi masih cukup membekas untuk membuatnya ingin berbuat demikian.

Ruang duduk, kamar tidur, kamar rongsokan. Semua sebagaimana mestinya. Tak ada siapa pun di bawah meja, tak ada siapa pun di bawah sofa; api kecil di perapian; sendok dan mangkuk sudah siap; serta panci kecil berisi bubur encer (Scrooge sedang pilek) di atas pelat perapian. Tak ada siapa pun di bawah ranjang; tak ada siapa pun di dalam lemari; tak ada siapa pun di dalam jubah rumahnya, yang tergantung di dinding dengan sikap mencurigakan. Kamar rongsokan seperti biasa. Pengadang api tua, sepatu-sepatu lama, dua keranjang ikan, rak baskom berkaki tiga, dan sebatang pengorek api.

Setelah benar-benar puas, dia menutup pintu dan mengunci diri di dalam; menguncinya dua kali, yang bukan kebiasaannya. Setelah mengamankan diri dari kejutan seperti itu, dia melepas dasi; mengenakan jubah rumah, selop, serta topi tidur; lalu duduk di depan api untuk menyantap bubur encernya.

Api itu sungguh kecil sekali; tak berarti apa-apa pada malam sedingin itu. Dia harus duduk rapat-rapat dan membungkuk di atasnya sebelum dapat merasakan sedikit saja kehangatan dari bahan bakar yang hanya segenggam itu. Perapian itu sudah tua, dibangun seorang saudagar Belanda dahulu kala, dan sekelilingnya dilapisi ubin-ubin Belanda yang unik, bergambar kisah-kisah Kitab Suci. Ada Kain dan Habel, putri-putri Firaun, Ratu Syeba, utusan-utusan malaikat turun melintasi udara di atas awan seperti kasur bulu, Abraham, Belsyazar, rasul-rasul bertolak ke laut dalam wadah saus mentega berbentuk perahu, ratusan sosok untuk menarik pikirannya; tetapi wajah Marley yang sudah tujuh tahun mati itu datang seperti tongkat nabi zaman dahulu, lalu menelan semuanya. Seandainya setiap ubin licin itu semula kosong dan mampu membentuk gambar pada permukaannya dari serpihan-serpihan pikirannya yang tercerai-berai, pada setiap ubin akan tergambar kepala Marley tua.

“Omong kosong!” kata Scrooge; lalu berjalan menyeberangi ruangan.

Setelah beberapa kali mondar-mandir, dia kembali duduk. Ketika menyandarkan kepala ke belakang di kursinya, pandangannya kebetulan tertumbuk pada sebuah lonceng, lonceng yang tak terpakai, tergantung di ruangan itu dan terhubung, untuk suatu keperluan yang kini terlupakan, dengan sebuah kamar di lantai paling atas gedung. Dengan sangat heran, disertai rasa ngeri yang aneh dan tak terjelaskan, dia melihat lonceng itu mulai berayun. Mula-mula ayunannya begitu pelan hingga nyaris tak bersuara; tetapi tak lama kemudian lonceng itu berdentang keras, begitu pula setiap lonceng di rumah itu.

Hal itu mungkin berlangsung setengah menit, atau semenit, tetapi terasa seperti sejam. Lonceng-lonceng berhenti serentak, seperti ketika mulai berbunyi. Sesudahnya terdengar bunyi gemerincing dari jauh di bawah, seakan seseorang menyeret rantai berat melintasi tong-tong di ruang bawah tanah saudagar anggur. Scrooge lalu teringat pernah mendengar bahwa hantu-hantu di rumah angker konon menyeret rantai-rantai.

Pintu ruang bawah tanah terbuka dengan bunyi menggelegar, lalu dia mendengar bunyi itu jauh lebih keras di lantai-lantai bawah; kemudian menaiki tangga; kemudian menuju lurus ke pintunya.

“Ini tetap omong kosong!” kata Scrooge. “Aku tak akan memercayainya.”

Namun, wajahnya berubah pucat ketika, tanpa berhenti, sosok itu menembus pintu yang berat dan masuk ke ruangan di depan matanya. Saat sosok itu masuk, nyala api yang hampir padam melompat naik, seolah berseru, “Aku mengenalnya! Hantu Marley!” lalu kembali meredup.

Wajah yang sama: persis sama. Marley dengan kuncir, rompi yang biasa dikenakannya, celana ketat, serta sepatu bot; rumbai-rumbai pada sepatu itu mencuat kaku, seperti kuncir, ujung jas, dan rambut di kepalanya. Rantai yang diseretnya terikat di pinggang. Rantai itu panjang, melilit tubuhnya seperti ekor; dan tersusun (sebab Scrooge mengamatinya dengan saksama) dari kotak uang, kunci, gembok, buku besar, surat akta, serta pundi-pundi berat yang ditempa dari baja. Tubuhnya tembus pandang: sehingga Scrooge, ketika mengamatinya dan memandang menembus rompinya, dapat melihat dua kancing di bagian belakang jasnya.

Scrooge kerap mendengar orang berkata bahwa Marley tak punya hati, tetapi baru sekarang dia memercayainya.

Tidak, bahkan sekarang pun dia tidak percaya. Meskipun dia memandang tembus sosok gaib itu dan melihatnya berdiri di hadapannya; meskipun dia merasakan pengaruh membekukan dari matanya yang sedingin kematian, dan bahkan memperhatikan tenunan kain terlipat yang diikatkan mengelilingi kepala serta dagunya, pembebat yang sebelumnya tak dia perhatikan, dia tetap tak percaya, dan melawan kesaksian pancaindranya.

“Nah!” kata Scrooge, tetap pedas dan dingin seperti biasa. “Apa maumu denganku?”

“Banyak!”—Suara Marley; tak diragukan lagi.

“Siapa kau?”

“Tanyakan siapa aku dahulu.”

“Kalau begitu, siapa kau dahulu?” kata Scrooge sambil meninggikan suara. “Kau teliti sekali, untuk sesosok bayangan.” Tadinya dia hendak mengatakan “teliti hingga selisih setipis bayangan,” tetapi menggantinya dengan ucapan tadi, yang lebih sesuai.

“Semasa hidup aku rekan usahamu, Jacob Marley.”

“Bisakah kau—bisakah kau duduk?” tanya Scrooge sambil memandangnya dengan ragu.

“Bisa.”

“Kalau begitu, duduklah.”

Scrooge menanyakan itu karena tidak tahu apakah hantu yang begitu tembus pandang bisa duduk di kursi; dan dia merasa, seandainya ternyata tidak bisa, mungkin akan diperlukan penjelasan yang memalukan. Tetapi Hantu duduk di seberang perapian, seolah sudah sangat terbiasa.

“Kau tidak memercayai keberadaanku,” ujar Hantu.

“Tidak,” kata Scrooge.

“Bukti apa lagi yang kauinginkan tentang keberadaanku selain kesaksian pancaindramu sendiri?”

“Aku tidak tahu,” kata Scrooge.

“Mengapa kauragukan pancaindramu?”

“Karena,” kata Scrooge, “hal kecil saja dapat memengaruhinya. Gangguan perut sedikit saja membuatnya berdusta. Mungkin kau sepotong daging sapi yang belum tercerna, sebercak moster, remah keju, serpihan kentang yang kurang matang. Apa pun kau ini, kau lebih berbau kuah daripada kubur!”

Scrooge tidak terbiasa berkelakar, dan saat itu pun hatinya sama sekali tidak ingin melucu. Sebenarnya, dia berusaha melontarkan ucapan cerdik untuk mengalihkan perhatiannya sendiri dan menekan rasa takut; sebab suara makhluk halus itu mengguncang sampai ke sumsum tulangnya.

Duduk diam menatap mata yang terpaku dan berkaca-kaca itu, meskipun hanya sesaat, akan benar-benar membuatnya kalang kabut, begitu dirasakan Scrooge. Ada pula sesuatu yang sangat mengerikan dalam kenyataan bahwa makhluk halus itu membawa hawa nerakanya sendiri. Scrooge tak dapat merasakannya, tetapi jelas demikianlah adanya; sebab meskipun Hantu duduk sama sekali tak bergerak, rambut, ujung jas, dan rumbai-rumbainya terus berkibar seolah diterpa uap panas dari tungku.

“Kau lihat tusuk gigi ini?” kata Scrooge, cepat-cepat kembali menyerang karena alasan yang baru saja disebutkan; dia ingin mengalihkan tatapan membatu penampakan itu dari dirinya, meski hanya sedetik.

“Ya,” jawab Hantu.

“Kau tidak melihat ke arahnya,” kata Scrooge.

“Tetapi aku melihatnya,” kata Hantu, “meski begitu.”

“Nah!” sahut Scrooge, “aku tinggal menelan benda ini, lalu seumur hidupku diganggu sepasukan jin, semuanya ciptaanku sendiri. Omong kosong, kataku: omong kosong!”

Mendengar itu, roh tersebut menjerit mengerikan dan mengguncangkan rantainya dengan bunyi yang begitu muram dan menakutkan sehingga Scrooge mencengkeram kursinya erat-erat supaya tidak jatuh pingsan. Tetapi betapa jauh lebih besar kengeriannya ketika sosok gaib itu melepas pembebat kepalanya, seolah terlalu panas dipakai di dalam rumah, dan rahang bawahnya jatuh ke dada!

Scrooge jatuh berlutut dan merapatkan kedua tangannya di depan wajah.

“Ampun!” katanya. “Penampakan yang mengerikan, mengapa kau menggangguku?”

“Manusia yang pikirannya terpaut pada dunia!” sahut Hantu. “Kau percaya akan keberadaanku atau tidak?”

“Percaya,” kata Scrooge, “aku harus percaya. Tetapi mengapa para roh berkeliaran di bumi, dan mengapa mereka mendatangiku?”

“Setiap manusia diwajibkan,” sahut Hantu, “agar jiwa dalam dirinya keluar bergaul dengan sesamanya dan berkelana ke mana-mana; dan jika jiwa itu tidak keluar semasa hidup, dia dihukum untuk melakukannya setelah mati. Dia ditakdirkan mengembara di dunia—oh, celakalah aku!—dan menyaksikan hal-hal yang tak dapat dinikmatinya, padahal semasa di bumi dia bisa turut menikmatinya dan menjadikannya kebahagiaan!”

Sekali lagi makhluk halus itu menjerit, mengguncangkan rantainya, dan meremas-remas tangannya yang samar.

“Kau dibelenggu,” kata Scrooge sambil gemetar. “Katakan mengapa?”

“Aku memakai rantai yang kutempa semasa hidup,” jawab Hantu. “Kubuat mata demi mata, yard demi yard; kulilitkan atas kehendakku sendiri, dan atas kehendakku sendiri pula kupakai. Apakah bentuknya terasa asing bagi kau?”

Scrooge semakin gemetar.

“Ataukah kau ingin tahu,” lanjut Hantu, “berat dan panjang lilitan kukuh yang kaubawa sendiri? Pada Malam Natal tujuh tahun silam, berat dan panjangnya sudah sama dengan rantai ini. Sejak itu kau terus mengerjakannya. Sungguh berat rantai itu!”

Scrooge melirik lantai di sekelilingnya, mengira akan mendapati dirinya dikelilingi tambang besi sepanjang lima puluh atau enam puluh fatom; tetapi tak ada yang terlihat.

“Jacob!” katanya memohon. “Jacob Marley tua, ceritakan lebih banyak! Berikan kata-kata penghiburan kepadaku, Jacob!”

“Aku tak punya penghiburan untuk diberikan,” jawab Hantu. “Penghiburan datang dari alam lain, Ebenezer Scrooge, disampaikan oleh utusan-utusan lain kepada manusia-manusia yang berbeda pula. Aku pun tak bisa mengatakan segala yang ingin kukatakan kepadamu. Hanya sedikit lagi yang diizinkan bagiku. Aku tak dapat beristirahat, tak dapat menetap, tak dapat berlama-lama di mana pun. Jiwaku tak pernah berjalan melampaui kantor pembukuan kita—camkan itu;—semasa hidup, jiwaku tak pernah berkelana melewati batas-batas sempit lubang penukaran uang kita; dan perjalanan-perjalanan melelahkan terbentang di hadapanku!”

Scrooge punya kebiasaan memasukkan tangan ke saku celana selututnya setiap kali tenggelam dalam pikiran. Sambil merenungkan perkataan Hantu, kini dia melakukannya, tetapi tanpa mengangkat mata ataupun bangkit dari lututnya.

“Kau pasti menempuhnya dengan sangat lambat, Jacob,” ujar Scrooge seperti orang membicarakan urusan dagang, meskipun dengan rendah hati dan penuh hormat.

“Lambat!” ulang Hantu.

“Tujuh tahun mati,” renung Scrooge. “Dan terus bepergian selama itu?”

“Sepanjang waktu,” kata Hantu. “Tanpa istirahat, tanpa kedamaian. Siksaan penyesalan yang tiada henti.”

“Kau bepergian dengan cepat?” kata Scrooge.

“Di atas sayap angin,” jawab Hantu.

“Dalam tujuh tahun mestinya kau sudah menjelajahi daerah yang sangat luas,” kata Scrooge.

Mendengar itu, Hantu kembali menjerit dan menggemerincingkan rantainya begitu mengerikan di tengah kesunyian malam sehingga pihak distrik pantas saja mendakwanya karena mengganggu ketenteraman.

“Oh! Tertawan, terikat, dibelenggu besi rangkap,” seru sosok gaib itu, “tanpa tahu bahwa kerja tiada henti makhluk-makhluk abadi demi bumi ini mesti berlangsung berabad-abad hingga memasuki keabadian, sebelum segala kebaikan yang dapat tumbuh di dalamnya berkembang sepenuhnya! Tanpa tahu bahwa jiwa Kristiani mana pun yang berbuat baik dalam lingkupnya yang kecil, apa pun lingkup itu, akan mendapati masa hidup fananya terlalu singkat dibandingkan begitu luasnya kesempatan untuk berguna! Tanpa tahu bahwa penyesalan sepanjang apa pun tak dapat menebus kesempatan-kesempatan yang disia-siakan dalam satu kehidupan! Namun, begitulah aku dahulu! Oh, begitulah aku!”

“Tapi kau selalu cakap dalam urusan dagang, Jacob,” kata Scrooge terbata-bata, yang kini mulai menghubungkan semua itu dengan dirinya sendiri.

“Urusan!” seru Hantu sambil kembali meremas-remas tangannya. “Umat manusialah urusanku. Kesejahteraan bersama adalah urusanku; amal, belas kasih, tenggang rasa, dan kemurahan hati, semuanya urusanku. Transaksi perdaganganku hanyalah setetes air dalam samudra luas urusanku!”

Dia mengangkat rantainya sejauh rentangan lengan, seolah itulah penyebab segala dukacitanya yang sia-sia, lalu mengempaskannya kembali ke lantai.

“Pada masa seperti ini dalam perputaran tahun,” kata makhluk halus itu, “aku paling menderita. Mengapa aku dahulu berjalan melewati kerumunan sesama manusia dengan mata tertunduk, dan tak pernah mengangkatnya ke arah bintang terberkati yang menuntun Orang-orang Majus menuju tempat tinggal miskin? Tidakkah ada rumah-rumah miskin yang akan ditunjukkan cahayanya kepada aku?”

Scrooge sangat gentar mendengar makhluk halus itu terus berbicara demikian, dan mulai gemetar hebat.

“Dengarkan aku!” seru Hantu. “Waktuku hampir habis.”

“Akan kudengarkan,” kata Scrooge. “Tapi jangan keras-keras kepadaku! Jangan berbahasa berbunga-bunga, Jacob! Kumohon!”

“Bagaimana aku bisa muncul di hadapanmu dalam wujud yang dapat kaulihat, itu tak boleh kukatakan. Sudah berkali-kali aku duduk tak terlihat di sampingmu.”

Pikiran itu tidak menyenangkan. Scrooge menggigil dan menyeka keringat dari dahinya.

“Itu bagian yang tak ringan dari penebusan dosaku,” lanjut Hantu. “Aku datang malam ini untuk memperingatkanmu bahwa kau masih punya kesempatan dan harapan untuk lolos dari nasibku. Kesempatan dan harapan yang kuusahakan bagimu, Ebenezer.”

“Kau selalu menjadi sahabat yang baik bagiku,” kata Scrooge. “Terima kasih!”

“Kau akan didatangi,” lanjut Hantu, “oleh tiga roh.”

Wajah Scrooge melorot lesu, nyaris serendah wajah Hantu tadi.

“Itukah kesempatan dan harapan yang kausebutkan, Jacob?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Ya.”

“Aku—kurasa lebih baik tidak usah,” kata Scrooge.

“Tanpa kunjungan mereka,” kata Hantu, “kau tak dapat berharap menghindari jalan yang kutempuh. Nantikan yang pertama besok ketika lonceng berdentang pukul satu.”

“Tidak bisakah kuterima semuanya sekaligus supaya cepat selesai, Jacob?” usul Scrooge.

“Nantikan yang kedua pada malam berikutnya, pada jam yang sama. Yang ketiga, pada malam sesudahnya, ketika getaran dentang terakhir pukul dua belas telah lenyap. Jangan berharap melihatku lagi; dan demi kebaikanmu sendiri, ingatlah segala yang terjadi di antara kita!”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, makhluk halus tersebut mengambil pembebatnya dari meja dan mengikatkannya kembali mengelilingi kepala seperti semula. Scrooge mengetahuinya dari bunyi tajam gigi-giginya ketika kedua rahangnya dirapatkan oleh pembebat itu. Dia memberanikan diri mengangkat mata lagi dan mendapati tamu gaibnya berdiri tegak di hadapannya, dengan rantai tersampir dan melilit lengannya.

Penampakan itu berjalan mundur menjauhinya; dan setiap kali dia melangkah, jendela terangkat sedikit, sehingga ketika makhluk halus itu mencapainya, jendela sudah terbuka lebar. Dia memberi isyarat agar Scrooge mendekat, dan Scrooge menurut. Ketika jarak mereka tinggal dua langkah, Hantu Marley mengangkat tangan, memperingatkannya agar tidak mendekat lagi. Scrooge berhenti.

Bukan terutama karena patuh, melainkan karena heran dan takut; sebab ketika tangan itu terangkat, dia mulai menyadari adanya bunyi-bunyi campur aduk di udara; suara ratapan dan penyesalan yang tak beraturan; tangisan yang kesedihan dan celaan terhadap diri sendiri di dalamnya tak terkatakan. Setelah mendengarkan sejenak, makhluk halus itu turut melantunkan kidung dukacita; lalu melayang keluar ke malam yang suram dan gelap.

Scrooge mengikutinya ke jendela: nekat karena ingin tahu. Dia memandang keluar.

Udara dipenuhi sosok-sosok gaib yang berkeliaran ke sana kemari dengan tergesa-gesa tanpa ketenteraman, sambil merintih sepanjang jalan. Masing-masing memakai rantai-rantai seperti Hantu Marley; beberapa di antaranya (mungkin mereka pemerintahan yang bersalah) dirantai menjadi satu; tak ada yang bebas. Banyak yang semasa hidupnya dikenal secara pribadi oleh Scrooge. Dia cukup akrab dengan satu hantu tua berompi putih, dengan peti besi luar biasa besar terikat pada pergelangan kakinya, yang menangis memilukan karena tak sanggup menolong seorang perempuan malang bersama bayinya, yang dilihatnya di bawah pada sebuah ambang pintu. Jelaslah bahwa kesengsaraan mereka semua terletak pada keinginan untuk turut berbuat baik dalam urusan manusia, sementara kemampuan itu sudah hilang untuk selama-lamanya.

Apakah makhluk-makhluk itu memudar menjadi kabut, atau kabut menyelubungi mereka, dia tak dapat memastikan. Tetapi mereka dan suara-suara gaib mereka lenyap bersama-sama; dan malam kembali seperti ketika dia berjalan pulang.

Scrooge menutup jendela dan memeriksa pintu yang tadi dilewati Hantu. Pintu itu terkunci dua kali, sebagaimana dikuncinya dengan tangannya sendiri, dan gerendel-gerendelnya tidak terusik. Dia mencoba berkata, “Omong kosong!” tetapi terhenti pada suku kata pertama. Dan karena perasaan-perasaan yang baru dialaminya, atau kelelahan sepanjang hari, atau kilasan dunia tak kasatmata yang dilihatnya, atau percakapan Hantu yang membosankan, atau larutnya malam, membuatnya sangat membutuhkan istirahat, dia langsung naik ke ranjang tanpa berganti pakaian, lalu seketika tertidur.


Preferensi cookie dan privasi

Anda memegang kendali atas data Anda

Pelajari lebih lanjut tentang cookie yang kami gunakan dan pilih cookie yang Anda izinkan.

  • Cookie ini diperlukan agar situs berfungsi dengan baik, termasuk untuk masuk ke akun dan menambahkan produk ke keranjang.

  • Cookie ini menyimpan informasi tentang aktivitas Anda untuk menyesuaikan pengalaman Anda saat mengunjungi situs ini lagi.

  • Cookie ini digunakan oleh kami dan mitra kami, termasuk Shopify, untuk mengoptimalkan komunikasi pemasaran dan menampilkan iklan kepada Anda di situs lain.

  • Cookie ini membantu kami memahami cara Anda berinteraksi dengan situs ini. Kami menggunakan data ini untuk mengetahui bagian yang perlu ditingkatkan.